Rabu, 28 Februari 2018

7

Yang Telah Usai

Usai sudah
Ku hentikan ilusi cinta yang sia-sia
Ku hilangkan semua rasa yang pernah ku anggap indah
Kini ikut larut dalam balutan duka
Dan sirnalah perasaan yang membuatku lelah
Aku tak ingin berlama-lama, membina cinta tanpa pernah kau merasa
Usai sudah
Semua harapan semu yang hanya membuat hatiku lara
Ku hilangkan semua bayang ilusi yang lancang ku buat sendiri
Kini, harus kau ketahui?
Bahwa semua itu telah terhempas
Dan tak ku inginkan lagi
Masih teringat jelas ketika hatimu menatapku seolah tak mengerti
Masih terukir jelas kelopak senyummu yang menyayatkan hati
Semua itu, semakin membulatkan tekad ku tuk tetap pergi

Usai sudah
Segala harapan pahit yang ku alami sendiri
Melupakan kebahagiaan yang tak memiliki arti
Ku buang sifat bodoh karena rasa ingin memiliki
Kini hanya tersisa penyesalan tak bertepi, yang masih menghantui
Serta patahnya hati, karena perpaling dari Sang Pemilik Hati
Ilusi cintaku, yang telah usai
Sudah berakhir tanpa perlu kau pertanyakan
Biarkan hati ini menghapus bayangmu,tanpa harus menyakiti hatimu
Dan aku takan mencari cara untuk melupakanmu
Karena semua akan hilang secara terbiasa tanpa ada dirimu disetiap hariku
📝@catatanceritaku | #catatanceritaku
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/

7

Lebih Baik TEGUR Aku, daripada Kau MENGGUNJING

Jangan padangi bagaimana kelamnya masa laluku.
Jangan ungkit-ungkit diri ini yang sering mengumbar aurat (dulu)
Jangan pula bersuudzon akan mahkota di kepala ini.
Mahkota ini bukan untuk menarik perhatian lelaki.
Mahkota ini semata-mata memenuhi kewajibanku sebagai wanita muslimah.
Mahkot ini pun semata-mata untuk ayahku di surga sana.
Aku tak tega beliau sampai merasakan panasnya api neraka.
Karena diri yang tak jua mau menutup auratnya.
Aku hanyalah pendosa yang mencoba lebih baik dari diri yang sebelumnya.
Aku hanya tak ingin berbuat dosa lagi.
Sudah cukup aku berbuat banyak dosa di masa lalu.
Aku takut jika tiba-tiba Dia memintaku kembali pada-Nya.
Namun, aku masih belum punya bekal apa-apa.

Walupun Jilbab sudah kuteguhkan di kepala.
Baju sudah longgarkan. Lengkap dengan kaos kaki dan handshocknya.
Bukan berarti aku menjadi sempurna dalam segala hal.
Bukan berarti aku tak bisa berbuat salah dan dosa lagi.
Aku hanya menutup auratku.
Bukan berubah menjadi seorang malaikat.
Aku pun sama seperti kalian.
Hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.
Terlebih aku hanyalah seorang remaja SMA yang masih labil.

Jangan jadikan aku bahan gunjingan.
Jangan buat diri ini sebagai topik utama pergunjingan kalian.
Jangan salahkan mahkotaku jika aku melakukan kesalahan.
Semua kesalahan yang kulakukan murni karena diriku.
Karena diri yang tak mampu menahan godaan syaithon.
Tegurlah aku. Beritahu dimana salahku.
Cepat nasihati aku, supaya aku tak melakukan kesalahan yang sama,
untuk kali kedua.
Sesungguhnya aku baru belajar akan semua ini.
Aku belum tahu pasti semuanya.
Tentang semua salah dan benar.
Tentang semua halal dan haram.
Aku tak akan marah. Malah, aku akan sangat bahagia.
Itu berarti masih ada yang perduli padaku.
Namun, kalian tidak menegurku sama sekali.
Malah sibuk menyebarkan salah dan dosa yang kulakukan.
Setiap arah kaki ini melangkah, selalu terdengar di telinga.
Hey! Bukankah kalian lebih tahu daripada aku
Bahwa kita tak bleh membicarakan saudara kita.
Sekalipun yang kita bicarakan adalah suatu kenyataan.
Tolong, bantu diri ini yang sedang belajar mengenal Tuhannya.
Ajari aku batasa-batasan yang boleh dan tidak boleh
sebagai sebagai seorang muslimah.
Mari, nasihati aku.
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/

10

Jadilah Shalihah Wahai Wanita Muslimah

Betapa banyak yang ingin hijrah, namun sulit memulai untuk melangkah. Seringkali berpikir untuk menjadi shalihah, dan seringkali pula keinginan itu terpatahkan. Menjadi pribadi yang lembut dalam bertutur kata, santun dalam menyapa, indah dalam akhlak, serta anggun dalam berpakaian.
Aku ingin hijrah, namun aku tak pernah melangkah. Aku ingin berhijab, hanya saja aku belum siap. Seringkali hati terus menerus membatin sesuatu yang terkadang tak pernah bisa untuk dipahami.
Duhai Wanita Muslimah, Jadilah Shalihah
Engkau adalah Kemuliaan dari Langit
Keanggunan di Bumi
Hijabmu adalah Keindahanmu
Bukan dengan Parasmu, bukan pula dengan Prestasimu
Muliakan dirimu dengan hijabmu, kau dapati Kehormatanmu
Cukuplah dirimu menjadi shalihah

Apa yang menghalangimu untuk berhijab wahai wanita muslimah?
Apakah karena penilaian orang terhadapmu, ataukan karena takut kau akan ditinggalkan satu persatu oleh teman-temanmu? Mungkin bahkan kau akan berpikir bahwa akan sulit untuk berkarir ketika memutuskan berhijab.
Sadarilah ini wahai wanita muslimah. Sesungguhnya seorang wanita muslimah akan menemukan dalam hukum Islam perhatian yang sangat tinggi terhadap dirinya. Tahukah engkau kenapa? Agar dapat menjaga kesuciannya, dapatkan kemuliaannya dan raih kedudukan yang tinggi. Tidakkah kalian ingin menjadi wanita yang kesucian dan kemuliaannya tetap terjaga? Menjadi indah dalam setiap tutur katanya, santun dalam setiap tingkah lakunya, dan tentu saja anggun dalam setiap riasannya.
Hijab bukanlah mempercantik pandangan semata. Lebih dari itu, hijab itu ketaatan kepada Allah dan Rasul. “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nur:31)
Maka ini perlu mendapat perhatian khusus dan cobalah bertanya kepada diri sendiri.
“Untuk apa aku mengenakan hijab, apakah hanya ingin dipandang anggun dimata manusia, ataukah karena ketaatanku kepada Allah?”
Segala aktifitas yang diniatkan untuk ibadah, maka itu jauh lebih indah dan mengindahkan. Termasuk dalam hal menutupi diri dengan sempurna, dan islam tentu saja dengan solusi hijabnya.
Hijab itu pelindung. Rasulullah pernah mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan.”
Sadarilah wahai wanita muslimah, hijab itu tidak lain adalah pelindung bagimu. Dari pandangan kotor yang merasuki setiap mata yang mengarah padamu. Pelindung dari setiap jiwa yang ingin merusak kehormatamu, benteng dari nafsu syahwatmu. Maka perhatikan bagaimana seorang wanita terlindungi melalui hijabnya, terjaga kehormatannya, dia raih kesuciannya, mata tertunduk malu padanya, dan Allah letakkan pelindung itu lewat hijabmu.

Hijab itu rasa malu. Rasulullah mengatakan: “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah malu.
Maka perhatikan wahai wanita muslimah, sesungguhnya hijab itu tanda engkau memiliki malu dalam diri. Tak malukah engkau berpakaian tapi telanjang? Engkau tak sempurnakan riasmu dengan hijabmu. Engkau tak jaga kehormatanmu dengan hijabmu. Dan tak Engkau raih kemuliaanmu lewat hijabmu.  Tak malukah? Sungguh, jika engkau tak punya rasa malu, maka berjalanlah di atas muka bumi ini sesukamu.
Tidak terlintaskah dibenakmu untuk menjadi wanita shalihah? Dengan keindahan dan keanggunan riasanmu, serta suci dan mulia dengan hijabmu.

Wahai wanita muslimah…
Tak cemburukah dirimu? Yang engkau dapati temanmu mendahuluimu menapaki jalan menuju surga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul lewat hijabnya.
Tidak ada kata nanti dan terlambat untuk memulai. Mulailah itu dengan hijab yang sempurna dan menyempurnakan. Sesungguhnya tidak ada proses kecuali dengan memulai langkah awal. Dan awalilah langkah itu dengan mulai merias diri secara sempurna. Kenakanlah hijabmu wahai wanita muslimah, bukan karena engkau ingin dipandang baik dan indah dimata manusia, bukan pula karena engkau ingin terlihat suci dan mulia dimata mereka, melainkan karena engkau ingin dipandang baik oleh yang Menciptakanmu, suci dan mulia dihadapan Tuhanmu.
Sesungguhnya Kelembutan seorang Wanita terletak pada riasannya
Tatkala Kelembutan itu hilang, maka sesungguhnya Engkau tidak lagi Indah
Jadilah Shalihah Wahai Wanita Muslimah …
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/ 

6


Aku bukan wanita sempurna


Aku bukan wanita sempurna,,
Aku hanya wanita biasa,,
Dengan sejuta kekuranganku,
Aku tidak cantik,
Aku tidak kaya,
Aku juga tidak sepandai orang- orang di luarsana,
Aku bisa merasakan sakit,
Aku bisa merasakan kecewa,
Aku bisa merasakan terluka,
Aku juga bisa merasakan sedih,
Karena aku hanya wanita biasa,
Bukan wanita sempurna..

Aku hanya wanita biasa yang berusaha kuat,tegar,lapang,
Dan selalu berusaha ceria..
Aku hanya wanita biasa yang berusaha membangun diri aku agar tak lemah di hadapan orang lain,Berusaha untuk selalu tersenyum apapun yang aku rasakan..
Aku tak mau terlihat lemah,
Aku tak meu terlihat terpuruk,
Dan aku tak mau terlihat jatuh terlalu dalam,
Meski dalam hatiku jauh berbeda dengan apa yang aku perlihatkan,,
Karena aku,tetaplah aku..
Inilah aku dengan sejuta kekuranganku..
Yang tak akan pernah bisa sempurna meski aku berusaha belajar menjadi yang terbaik.
yukhijrah hijrah istiqomah
@ayukberhijrah
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/

8


Berjilbab tapi akhlak belum baik, munafikkah?



Banyak yang bilang nih: "Mending kek gue nih meski gak pake hijab tapi gak munafik kek mereka yang pake hijab tapi aibnya banyak!"

Mohon maaf banget...
Boleh balik bertanya?

(Sebenarnya) kalian udah tau (dari dulu) jika menutup aurat itu wajib, tapi kenapa kalian tak pakai? (siapakah yang munafik?)
Oke, kita berbicara tentang kemunafikkan. Namanya manusia bukan malaikat, kita pasti pernah berbuat dosa (punya aib).

Jilbab itu identitas (kalau mengaku muslimah)
Jilbab itu kewajiban (kalau mengaku beriman)



Mau dia dosanya segunung, aibnya segunung, itu tetap kewajiban (tidak ada alasan untuk lepas). Jadi tidak ada istilah wanita pake jilbab itu munafik (meski ada cacat pada akhlaknya). Dia itu tidak munafik, dia itu menjalankan kewajibannya. dia itu mencoba tasattur (menyembunyikan aib). Barangkali dia itu punya dosa ditempat lain, tentang hal lain, tentang kasus lain, setidaknya dia gak menumpuk dosa dengan cara membuka aurat.
Jadi, jangan pernah jadikan aib burukmu sebagai alasan untuk kamu gak mau pake jilbab (karena merasa tak pantas, banyak dosa). Kalau kamu bangga dengan aibmu sekarang (merasa apa adanya menyebut diri tidak munafik). Lantas kamu membuka jilbab, itu bukan menghilangkan dosa. malah kamu menambah dosa (rugi) disamping dosa lain.

Ayolah cantik, pakai jilbabmu :)
Biar dosa itu tidak menumpuk :(

Masalah aib, dosa, akhlak buruk, bisa kita perbaiki lambat laun (selama proses pemantapan hati).
Syukron ukhti, semoga tulisan ini bermanfaat.


Sumber: @unialfi

39


Apa hukum selfi itu?



Hallo ukhti, diblog ini saya ingin me-repost postingan dari @unialfi

Masalah foto itu khilaf (silang pendapat) diantara ulama. Ada yg memperbolehkan, ada yg melarang. Namun disini kembali pada tujuan foto itu sendiri. Kalu dia berfoto untuk memamerkan aurat dan murni memperlihatkan kemaksiatannya, ini sudah mutlak haram.

FATWA MUI:
13 Mei 2017 MUI mengeluarkan fatwa pengharaman dalam menggunakan sosmed. Diantaranya: Ghibah, Bullying, Hoaks, Buzzer, & Pornografi. Konten porno menyangkut informasi berupa teks, foto, video. Hal yg menjadi penilaian ulama hanya berurusan pada masalah zhahirnya saja. Maksudnya masalah batin seperti niat tidak menjadi urusan ulama. Maka berfoto yg baik boleh, tidak haram.
TAK ADA HAK tuk saya yg faqir ilmu mengatakan halal/haram atas hal ini, mengenai dalil silahkan anda merujuk pada guru/kitab masing-masing yg dianut, karna diatas sekedar info umum, BUKAN TELAAH DALIL/KITAB.



Bagaimana dengan saya? Apakah saat saya beraktivitas di medsos, unggah foto, bebas dari narsisme ujub riya sombong? Tak ada yg bisa menjamin itu. Karenanya saya sampaikan dari awal bahwa ini adalah nasihat dari seorang Muslim kepada Muslim yg lainnya, itu saja. Bila ada kebaikan, itu semua dari Allah semata.

Bilapun masih ada yg bersihkeras menuduh selepas penjelasan ini, maka biarlah mereka dengan pendiriannya, selama kita berdakwah tidak keluar dari koridornya, maka itu sah-sah saja❤

Syukron ukhti, semoga bermanfaat.

3


Untukmu yang sedang Berhijrah



Ukhti, hijrah itu bukan hanya sekadar berubahnya pakaian menjadi lebar2 (syar’i), atau baju yang serba gelap.
Semoga ingat, gamis itu bisa dibeli.
.
Ukhti, hijrah itu juga ketika kita lebih mendahulukan Allah daripada makhluk. Lebih mengutamakan shalat daripada syura’ dan rapat organisasi.
.
Hijrah itu juga meliputi perubahan akhlak dan tutur kata yang semakin santun. Tak ada ada hujatan dan celaan lagi dari lisan dan ketikan tangan.
.
Ukhti, hijrah itu juga tentang perubahan menerima nasihat, kita tak lagi mengatakan orang yang menasihatimu dengan ‘siapa sih lu ceramahin gue?’
‘Ini bukan urusanmu!’
.
Sejujurnya aku kagum pada mereka yang mudah menerima nasihat. Karena aku tau mengalahkan ego keakuan itu begitu berat.



.
Ukhti, hijrah itu juga semakin seringnya engkau mencintai ilmu, orang yang berilmu dan majelis ilmu. Engkau merindukan mereka, meski diri belum berilmu.
.
Ukhti, hijrah itu tentang berubahnya diri ke arah kebaikan dan keridhaan Allah.
.
Ukhti, mungkin memang hal di atas terlalu banyak, tapi tidak terlalu sulit untuk dilalui dengan bantuan Allah.
.
Ukhti, aku tak mengatakan jalan ini jalan yang mulus. Tapi bersama Allah segalanya akan terasa mudah.
.
Untuk itu ukhti, mintalah kemudahan jalan hijrahmu itu pada Rabbmu..
.
Ukhti, luruskanlah niatmu selalu. Jangan gunakan niat yang rapuh. Kalau niat rapuh, akan mudah engkau tumbang oleh perkataan mereka. Namun jika niatmu melangit karena Allah, tak kan terhempas diri hanya karena celaan orang yang belum berilmu.
.
Dan juga ukhti, milikilah teman yang menguatkanmu dan mau menasihatimu, agar jalan hijrah terasa lebih mudah.



.
Satu hal yang harus kita ingat, bahwa akhir yang indah itu bukan tentang kesempurnaan hijrah kita. Tapi berkenaan kita mati di jalan yang lurus ini, istiqamah di jalan ini. Akhir yang indah itu husnul khatimah di jalan ini.
.
Akhir kalam, semoga hijrah kita liLLah, untuk Allah. Bukan untuk makhluk.
Semoga keridhaan Allah tetap menjadi tujuan kita.
Dan semoga Allah berkenan menjadikan kita penghuni surga-Nya.

Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/

0


Iya, aku pernah seperti itu.



Iya, harus ku akui
Aku memiliki banyak kisah
Terutama di masa yang telah lalu.
Aku pernah merasakan pahitnya berjalan di arah yang salah
Kelamnya kehidupan tanpa tujuan yang pasti
Tersesat, aku tak berdaya.
Aku pernah menganggap yang haram menjadi halal
LaranganNya menjadi sebuah perintah
Dan itu bagiku, nafsu sebagai manusia yang tak mengingat sang Maha Pencipta.


Pacaran?
Iya, aku pernah.
Mengolok-mengolok yang berpegang teguh pada sunnahNya?
Iya, aku pernah.
Mencela seseorang yang sangat menurut pada aturan dariNya?
Iya, aku pernah.
Ketinggalan jaman, kataku.
Terlalu fanatik, pikirku.
Jangan ekstrim, jawabku.
Aku terlalu akrab pada kemaksiatan
Hingga asing pada urusan akhirat
Kenikmatan dunia yang sesaat
Membuatku terlena hingga lupa pada kematian.

Namun tahukah engkau?
Kini aku tertunduk malu atas perbuatanku sendiri
Kini aku menyesal atas perkiraanku selama ini.
Asumsi yang selalu ku lontarkan terhadap mereka
Ternyata salah besar
Bahkan aku telah mendzolimi mereka yang tidak bersalah.
Sungguh, aku ini adalah seorang pendosa.
Aku ingin kembali pada tugasku yang sesungguhnya
Walau aku tahu, ini tak mudah
Banyak ujian yang akan menghalangi langkahku.
Mungkin saja itu datang dari temanku
Sahabatku
Bahkan keluargaku.


Aku memutuskan meninggalkan sedikit demi sedikit hal-hal yang mendekatkan ku pada liang dosa
Meskipun akan ada yang meninggalkanku sebab aku mulai berbeda.
Sudahlah, ku jalani saja ingin ku
Aku tak ingin mati dalam keadaan fasik berkat kemaksiatan yang ku lakukan di dunia.
Meskipun keimanan masih terombang ambing
Aku hanya meminta kepadaNya agar menguatkan hatiku tuk selalu istiqomah dijalanNya.
Bagiku, tidak ada kata terlambat
Tapi ingatlah, ajal tak menunggu kita untuk bertaubat.
Jika niat sudah ada, maka lakukanlah.
Salam @amaliahrh
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/

2


Hijrah dulu Istiqomah kemudian




Dalam hidup, cobaan selalu ada menempa diri kita. Kadang berat, sulit, dan tidak tahu harus berbuat apa. Sama halnya ketika kita memutuskan untuk hijrah; berat, tak mudah dan macam liku lainnya. Mengubah suatu keadaan menjadi kebiasaan yang baik perlu komitmen yang mesti dipupuk dengan kesungguhan serta senantiasa tersirami ketaatan.
Saat ini mungkin kita tengah berada di titik jenuh kehampaan sebagai seorang manusia, terlalu sering berbuat buruk hingga lupa beribadah kepadaNya. Disinilah teman, kita harus hijrah, mengubah hal tidak baik yang biasa dilakukan menjadi perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada Allah.




Mungkin nanti ada perasaan takut, cemas, bagaimana nanti tanggapan oranglain tentang hijrah yang kita lakukan; tidak apa-apa hijrah saja dulu, umpatan seseorang terhadap hijrah yang diusahakan adalah bukti bahwa kita tengah berada dimuara kebaikan. Celaan mereka adalah lecutan bahwa kita harus lebih bersemangat dalam berhijrah.
Memang berat.. tapi cobalah, hijrah saja dulu. Toh, nanti jika sudah merasakan pasti ketagihan. Hehe
Ada sebagian yang mengatakan “hijrah itu mudah, yang sulit ialah istiqomah.” Inilah kebenaran, teman; bahwa untuk tetap berada di jalan kebaikan kita mesti senantiasa memperbanyak bekal; sahabat yang selalu mengingatkan, lingkungan yang mendukung, tekun beribadah, serta ikutilah kajian-kajian yang menambah keimanan dan kemantapan untuk terus di jalan hijrah. Ia adalah bekal dalam perjalanan untuk senantiasa istiqomah menapaki jalan hijrah.


Memang, jalan hijrah tak selamanya mudah, tapi jangan sampai membuat iman goyah. Faktanya, hijrah itu berlika-liku, tak jarang melipir pada cemoohan manusia. Tapi inilah ujiannya, atau mungkin serunya.
Sebagai contoh coba kita bayangkan, kalau novel itu alur ceritanya datar pasti nggak seru, alhasil ya jauh dari kata bestseller. Nah, begitulah hijrah, teman. Alurnya kadang mendebarkan, ceritanya mengharukan, tapi insya Allah kita mengetahui ujung jalan hijrah ini adalah tempat terbaik yang tak sebanding dengan apapun. Surga.
Teman.. Hijrah saja dulu istiqomah kemudian tetapkan diri dijalan kebaikan, kita tidak pernah tahu sampai kapan Allah memberi kita kesempatan dan berapa lama lagi kita tinggal di dunia. Namun yang harus di yakini adalah; maut senantiasa mengintai, membuntuti kita dengan liar, ia dapat menyergap kapan saja sesuai ketetapan. Maka hijrah saja dulu teman, lalu istiqomah kemudian.
@haruntsaqif
Sumber: http://www.majelistausiyahcinta.com/2017/03/20/untukmu-yang-sedang-berhijrah/